Kudus, Antara Jateng - Limbah kayu dari pengrajin mebel
dan ukir yang selama ini dianggap tak bernilai dan banyak yang
dimanfaatkan sebagai kayu bakar, ternyata bisa disulap menjadi kerajinan
unik yang lebih bernilai.
Produk kerajinan yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampil
dari Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, itu, berupa miniatur
gazebo, gebyok, dan joglo yang harga jualnya antara ratusan ribu hingga
jutaan rupiah.
Hernawan, pengrajin miniatur rumah adat Kudus dari Desa
Kaliwungu di Kudus, Selasa, mengungkapkan, pembuatan miniatur gazebo,
gebyok dan joglo berawal dari kesulitan yang dialami dirinya bersama
teman-temannya ketika mengikuti pameran kerajinan.
"Setiap kali mengikuti pameran, harus membawa kerajinan gebyok yang ukurannya cukup besar," ujarnya.
Selain mengalami kesulitan dalam proses pengirimannya, kata
dia, biaya transportasi menuju lokasi pameran juga cukup mahal.
Akhirnya, kata dia, muncul ide untuk membuat miniatur gebyok, kemudian dikembangkan membuat miniatur gazebo dan joglo.
Karena banyak limbah kayu hasil pembuatan mebel dan ukir tidak
terpakai, akhirnya Hernawan mencoba memanfaatkannya untuk dibuat
miniatur gebyok.
Dalam membuat miniatur gebyok, dirinya dibantu temannya yang juga ahli di bidang pembuatan mebel dan ukir.
Lamanya pengerjaan untuk membuat satu unit miniatur gebyok tersebut, Hernawan membutuhkan waktu sekitar lima hari.
"Modal yang dikeluarkan sebetulnya tidak besar karena bahan
baku kayunya merupakan limbah yang tidak bernilai, sedangkan lem untuk
merekatkan kayu agar membentuk miniatur gebyok memang beli dengan harga
yang tidak mencapai Rp50 ribuan," ujarnya.
Setelah sukses membuat miniatur gebyok, kemudian dilanjutkan dengan uji coba membuat miniatur gazebo serta joglo.
"Dalam waktu dekat juga akan membuat miniatur rumah adat Kudus yang di dalamnya terdapat gebyok dan joglo," ujarnya.
Jika membuat miniatur gebyok hanya butuh waktu lima hari, tidak
demikian dengan pembuatan miniatur joglo dan gazebo karena
masing-masing dibutuhkan waktu sembilan hari dan 11 hari.
Kerajinannya itu, kini rutin diikutkan dalam pameran produk
kerajinan tangan yang digelar oleh Pemkab Kudus maupun Pemprov Jateng di
berbagai daerah.
Pameran yang pertama kali diikuti, yakni ketika ada kirab
budaya di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus, pada tahun 2011.
"Kini sudah sering ikut pameran, meskipun pemesanya belum banyak," ujarnya.
Respons masyarakat terhadap miniatur gazebo, gebyok serta
joglo, kata dia, cukup bagus dan banyak yang menyatakan minatnya,
terutama dari instansi pemerintah yang siap memesan sebagai cendera mata
bagi tamu dari daerah lain.
Harga jual untuk miniatur gazebo Rp1,2 juta, joglo Rp1,1 juta dan gebyok Rp500 ribu.
Butuh Jaringan Pemasaran
Pengrajin miniatur gazebo, gebyok dan joglo yang ada di Desa
Kaliwungu tersebut, mengaku tidak kesulitan mendapatkan bahan baku
karena sejumlah pengrajin mebel dan ukir juga banyak yang menawarkan
limbah kayunya untuk dijadikan cindera mata.
Hanya saja, Hernawan mengaku, masih membutuhkan jaringan
pemasaran yang handal agar pemesannya juga banyak sehingga biaya
pembuatannya jauh lebih murah.
"Maklum saja, pekerjaan utama saya sebagai pengrajin mebel dan
ukir sedangkan pembuatan miniatur gazebo, gebyok dan joglo merupakan
pekerjaan sampingan," ujarnya.
Apabila pesanannya cukup banyak, dia tentunya akan
mempekerjakan masyarakat sekitar yang selama ini memang banyak yang
memiliki keahlian di bidang pembuatan mebel dan ukir.
Sekretaris Dinas Perindustrian Koperasi dan Usaha Mikro Kecil
dan Menengah (UMKM) Kabupaten Kudus Bambang Tri Waluyo menganggap,
munculnya pelaku usaha baru di Desa Kaliwungu sebagai cikal bakal
lahirnya pengrajin gebyok khas Kudus perlu dikembangkan.
"Kami siap memfasilitasi pengrajin tersebut untuk ikut pameran
agar dilebih dikenal sehingga ketika banyak pemesannya tentu akan
menciptakan lapangan kerja baru bagi warga setempat," ujarnya.
Apalagi, lanjut dia, desa setempat juga sebagai desa wisata
sehingga upaya pengembangan potensi yang ada juga perlu dilakukan.
Ia mempersilakan, masyarakat sekitar yang memang memiliki minat
di bidang mebel dan ukir untuk mengajukan proposal mengikuti pelatihan
yang nantinya bisa diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian Koperasi dan
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kabupaten Kudus.
Hanya saja, lanjut dia, pelatihan tersebut baru bisa
diselenggarakan pada tahun depan, termasuk kemungkinan memberikan
bantuan peralatan pendukung kerja mereka.
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © 2015